Trading vs Investasi Pasif: Data Berbicara
Mayoritas trader kehilangan uang. Data dari riset akademis dan regulator membuktikan investasi pasif menang untuk hampir semua orang.
Trading vs Investasi Pasif: Data Berbicara
Setiap hari, jutaan orang Indonesia membuka aplikasi trading saham, membeli dan menjual dengan harapan mengalahkan pasar. Media sosial penuh dengan screenshot profit hijau. Tapi data dari seluruh dunia konsisten menunjukkan satu hal: mayoritas trader kehilangan uang.
Ini bukan opini. Ini fakta yang didukung oleh riset akademis selama puluhan tahun.
Data Global: Trader Ritel Hampir Selalu Kalah
Studi dari Brasil (Barber et al., 2019)
Peneliti menganalisis semua trader harian di pasar saham Brasil selama 2013-2015:
- 97% day trader kehilangan uang
- Hanya 1,1% yang profit lebih dari upah minimum Brasil
- Semakin sering trading, semakin besar kerugiannya
- Bahkan trader yang sudah berpengalaman bertahun-tahun tetap rugi
Studi dari Taiwan (Barber et al., 2009)
Taiwan memiliki data trading terlengkap di dunia karena semua transaksi tercatat:
- Dalam periode 15 tahun, kurang dari 1% trader secara konsisten menghasilkan profit setelah biaya
- Day trader yang paling aktif kehilangan rata-rata 3,8% per bulan
- Kerugian total trader ritel Taiwan: sekitar $72 miliar selama 15 tahun
Data dari India (SEBI, 2023)
Securities and Exchange Board of India merilis studi resmi:
- 89% trader F&O (futures & options) kehilangan uang selama 2021-2022
- Rata-rata kerugian: sekitar Rp 17 juta per trader per tahun
- 10 dari 100 trader profit, tapi profit mereka kecil dibanding kerugian 90 yang lain
Kenapa Ini Terjadi? Alasan Matematis
1. Biaya transaksi menggerogoti profit
Setiap kali Anda beli dan jual saham di Indonesia:
| Biaya | Beli | Jual |
|---|---|---|
| Komisi broker | 0,15% | 0,15% |
| PPh final | - | 0,1% |
| Total | 0,15% | 0,25% |
| Bolak-balik (round trip) | 0,4% |
Jika Anda trading 5 kali sebulan (bolak-balik), biaya Anda: 0,4% × 5 = 2% per bulan = 24% per tahun.
Artinya, portofolio Anda harus naik 24% per tahun hanya untuk impas sebelum mendapat keuntungan. IHSG rata-rata hanya naik ~10-12% per tahun.
2. Pasar adalah zero-sum game (minus biaya)
Untuk setiap trader yang untung, ada trader lain yang rugi. Tapi setelah dikurangi biaya transaksi, total seluruh trader pasti rugi. Ini bukan pendapat — ini aritmatika.
William Sharpe, peraih Nobel Ekonomi, membuktikan ini dalam paper klasiknya “The Arithmetic of Active Management” (1991): secara rata-rata, investor aktif pasti kalah dari investor pasif sebesar biaya yang mereka keluarkan.
3. Anda melawan algoritma dan profesional
Ketika Anda trading, lawan Anda adalah:
- Algoritma high-frequency trading yang bertransaksi dalam milidetik
- Fund manager profesional dengan tim analis puluhan orang
- Insider yang punya informasi lebih dari Anda (meski ilegal, ini tetap terjadi)
Anda trading di jam istirahat kantor sambil cek HP. Mereka trading sebagai pekerjaan penuh waktu dengan miliaran rupiah modal.
Data Indonesia: Apa yang Kita Tahu
OJK dan BEI belum mempublikasikan data rinci seperti Brasil atau Taiwan. Tapi ada indikator kuat:
- Jumlah investor aktif vs terdaftar: Dari ~12 juta investor terdaftar di KSEI (2025), hanya sebagian kecil yang aktif trading. Banyak yang “tidur” setelah pengalaman pertama yang buruk.
- Dominasi investor asing dan institusi: Sekitar 50-60% transaksi harian di BEI dilakukan oleh investor institusi dan asing yang jauh lebih canggih.
- Pertumbuhan investor muda saat COVID: Jutaan investor baru masuk saat 2020-2021, banyak yang tertarik oleh hype saham gorengan dan crypto. Banyak yang kemudian berhenti.
Survivorship Bias: Kenapa Media Sosial Menyesatkan
Anda hanya melihat trader yang berhasil di Instagram dan Twitter. Yang rugi tidak posting.
Ini namanya survivorship bias:
- 100 orang mulai trading
- 95 orang rugi → diam atau menghilang
- 5 orang profit → posting screenshot, bikin kelas berbayar, jadi influencer
- Anda melihat 5 orang ini dan berpikir “trading itu mudah”
Kenyataannya, probabilitas Anda menjadi salah satu dari 5 orang itu sangat kecil — dan bahkan dari 5 itu, kebanyakan akan rugi juga dalam jangka panjang.
Investasi Pasif: Strategi yang Membosankan tapi Menang
Investasi pasif berarti membeli reksa dana indeks secara rutin dan tidak melakukan apa-apa. Tidak ada analisis teknikal, tidak ada baca candlestick, tidak ada “saham hot pick minggu ini.”
Hasilnya?
Perbandingan 10 tahun (ilustrasi):
| Strategi | Asumsi Return Tahunan | Biaya Tahunan | Return Bersih | Rp 10 juta setelah 10 tahun |
|---|---|---|---|---|
| Investasi pasif (indeks) | 10% | 0,5% | 9,5% | Rp 24,8 juta |
| Trading aktif (rata-rata trader) | 10% | 5-10% (biaya + kerugian) | 0-5% | Rp 10-16,3 juta |
Investor pasif cukup duduk dan menunggu. Trader aktif menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari — dan secara rata-rata mendapat hasil yang lebih buruk.
”Tapi Saya Berbeda, Saya Bisa Mengalahkan Pasar”
Ini yang dipikirkan oleh hampir semua orang yang mulai trading. Psikologi manusia memiliki bias yang disebut overconfidence — kita cenderung menganggap kemampuan kita di atas rata-rata.
Faktanya:
- Dalam survei klasik, 93% pengemudi AS menganggap diri mereka “di atas rata-rata” — secara matematis mustahil
- Hal yang sama berlaku di trading: hampir semua trader baru percaya mereka akan jadi pengecualian
- Data menunjukkan bahwa bahkan pengalaman tidak membantu — trader berpengalaman di Brasil dan Taiwan tetap rugi
Apa yang Harus Dilakukan?
-
Jangan trading. Serius. Data dari puluhan riset di puluhan negara semuanya mengatakan hal yang sama.
-
Investasi rutin di reksa dana indeks. Pilih reksa dana yang melacak IDX30 atau LQ45, investasi setiap bulan, dan lupakan.
-
Gunakan waktu Anda untuk hal lain. Waktu yang dihemat dari tidak trading bisa dipakai untuk meningkatkan skill pekerjaan (yang secara statistik jauh lebih menguntungkan daripada mencoba mengalahkan pasar).
-
Jika ingin “sensasi” — alokasikan maksimal 5% portofolio untuk trading. Anggap ini sebagai uang hiburan yang siap hilang, bukan strategi investasi.
Ringkasan
| Fakta | Sumber |
|---|---|
| 97% day trader rugi | Barber et al. (Brasil, 2019) |
| <1% trader konsisten profit jangka panjang | Barber et al. (Taiwan, 2009) |
| 89% trader F&O rugi | SEBI India (2023) |
| Biaya trading bisa >20% per tahun | Kalkulasi biaya BEI |
| Investor pasif menang secara rata-rata | William Sharpe, Nobel 1990 |
Trading itu menyenangkan. Investasi pasif itu membosankan. Tapi uang Anda tidak peduli apakah Anda bersenang-senang.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.