Membuat Investment Policy Statement (IPS)

IPS adalah dokumen pribadi yang menjadi panduan investasi Anda. Pelajari cara membuatnya dan mengapa ini sangat penting.

Membuat Investment Policy Statement (IPS)

Investment Policy Statement (IPS) adalah dokumen tertulis yang menjelaskan mengapa, bagaimana, dan berapa Anda berinvestasi. Ini bukan dokumen resmi yang perlu dilaporkan ke siapa pun — ini adalah janji kepada diri sendiri.

Mengapa ini penting? Karena ketika pasar jatuh 30% dan Anda panik, IPS adalah yang mengingatkan Anda untuk tetap tenang dan mengikuti rencana.

Mengapa Anda Butuh IPS?

Tanpa rencana tertulis, keputusan investasi Anda akan dipengaruhi oleh:

  • Emosi: panik saat pasar turun, euforia saat pasar naik
  • Media sosial: FOMO melihat orang lain profit dari saham tertentu
  • Berita: reaksi berlebihan terhadap berita ekonomi harian
  • Bias kognitif: overconfidence, recency bias, loss aversion

IPS membantu Anda membuat keputusan saat pikiran jernih (sekarang), bukan saat emosional (saat krisis).

Studi menunjukkan bahwa investor yang memiliki rencana tertulis secara konsisten mendapat return lebih baik — bukan karena memilih investasi lebih pintar, tapi karena mereka tidak panik dan menjual di saat yang salah.

Apa Isi IPS?

IPS tidak perlu panjang atau rumit. Satu halaman sudah cukup. Ini elemen-elemen utamanya:

1. Tujuan Investasi

Tulis dengan spesifik:

❌ Terlalu Umum✅ Spesifik
”Saya mau kaya""Saya ingin punya Rp 5 miliar saat pensiun di usia 55"
"Untuk masa depan""Dana pendidikan anak Rp 500 juta dalam 15 tahun"
"Passive income""Rp 10 juta per bulan dari portofolio mulai usia 55”

Anda boleh punya beberapa tujuan. Pisahkan masing-masing dengan jelas.

2. Jangka Waktu (Time Horizon)

TujuanJangka WaktuImplikasi
Dana daruratKapan sajareksa dana pasar uang
DP rumah2-3 tahunReksa dana pasar uang / obligasi
Dana pendidikan anak10-18 tahunCampuran saham + obligasi
Pensiun20-30 tahunMayoritas saham

Semakin panjang jangka waktu, semakin besar porsi saham yang bisa Anda ambil — karena Anda punya waktu untuk pulih dari penurunan pasar.

3. Toleransi Risiko

Jawab pertanyaan ini dengan jujur:

Jika portofolio Anda turun 30% dalam setahun (misalnya Rp 100 juta menjadi Rp 70 juta), apa yang akan Anda lakukan?

  • A: Jual semuanya → Anda perlu alokasi konservatif
  • B: Khawatir tapi tidak jual → Anda bisa alokasi moderat
  • C: Tetap investasi rutin, bahkan tambah → Anda bisa alokasi agresif

Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal mengenal diri sendiri. Alokasi terbaik adalah yang bisa Anda pertahankan saat pasar jatuh.

4. Alokasi Aset

Berdasarkan jangka waktu dan toleransi risiko, tentukan persentase untuk setiap kelas aset:

ProfilSaham (Reksa Dana Indeks)Obligasi/SBNPasar Uang
Konservatif30%50%20%
Moderat60%30%10%
Agresif80%15%5%

Dan untuk eksposur geografis:

Komponen SahamKonservatifModeratAgresif
IHSG (reksa dana indeks)80%70%60%
Global/S&P 50020%30%40%

Ini hanya contoh. Angka yang “benar” tergantung situasi unik Anda.

5. Produk Investasi

Tulis produk spesifik yang akan Anda gunakan:

Kelas AsetProdukPlatform
Saham IndonesiaBahana IDX30 / BNP Paribas SRI-KEHATIBibit
Saham globalVOO (S&P 500 ETF)Gotrade
ObligasiSBN (ORI/SBR/SR/ST)Bibit/Bareksa
Pasar uangSucorinvest Money Market FundBibit

6. Jadwal Investasi

FrekuensiJumlahTanggal
BulananRp 2.000.000Tanggal 1 setiap bulan
SBNSesuai penawaranSaat masa penawaran (cek kalender OJK)

Gunakan fitur auto-invest di platform Anda agar konsisten.

7. Aturan Rebalancing

Tentukan kapan Anda akan menyeimbangkan kembali portofolio:

  • Rebalancing berbasis waktu: setiap 6 atau 12 bulan
  • Rebalancing berbasis threshold: jika alokasi menyimpang lebih dari 5-10% dari target

Contoh: jika target Anda 60% saham / 40% obligasi, dan karena saham naik sekarang menjadi 70% / 30%, Anda menjual sebagian saham dan membeli obligasi untuk kembali ke 60/40.

8. Aturan “Jangan Lakukan”

Ini bagian terpenting. Tulis hal-hal yang tidak akan Anda lakukan:

  • ❌ Tidak akan menjual saat pasar turun lebih dari 20%
  • ❌ Tidak akan trading saham individual
  • ❌ Tidak akan mengubah alokasi berdasarkan berita atau prediksi pasar
  • ❌ Tidak akan membeli produk investasi yang tidak saya pahami
  • ❌ Tidak akan mengikuti rekomendasi finfluencer
  • ❌ Tidak akan cek portofolio lebih dari sekali sebulan

Contoh IPS Sederhana

Berikut contoh IPS satu halaman:


IPS — [Nama Anda] — Februari 2026

Tujuan: Membangun dana pensiun Rp 5 miliar pada usia 55 (tahun 2051, 25 tahun dari sekarang).

Toleransi risiko: Moderat-agresif. Saya bisa menerima penurunan 30-40% dalam jangka pendek karena jangka waktu saya masih panjang.

Alokasi aset:

  • 60% reksa dana indeks saham Indonesia (Bahana IDX30)
  • 20% S&P 500 ETF (VOO via Gotrade)
  • 10% SBN (beli saat masa penawaran)
  • 10% reksa dana pasar uang (dana darurat)

Investasi rutin: Rp 3.000.000 per bulan, tanggal 1, auto-invest.

Rebalancing: Setiap 12 bulan (Januari) atau jika alokasi menyimpang >10%.

Aturan:

  • Tidak menjual saat pasar turun
  • Tidak trading saham individual
  • Tidak mengubah rencana tanpa review tahunan
  • Review IPS setiap Januari

Kapan Mengubah IPS?

IPS bukan dokumen yang dikunci selamanya. Anda bisa dan harus mengubahnya jika:

  • Situasi hidup berubah: menikah, punya anak, kehilangan pekerjaan, warisan besar
  • Jangka waktu berubah: mendekati pensiun, tujuan berubah
  • Toleransi risiko berubah: setelah pengalaman nyata (bukan hanya teori)

Yang bukan alasan untuk mengubah IPS:

  • Pasar sedang turun
  • Pasar sedang naik
  • Teman profit dari crypto
  • Finfluencer bilang harus pindah ke saham X

Ringkasan

Elemen IPSPertanyaan yang Dijawab
TujuanUntuk apa saya investasi?
Jangka waktuKapan saya butuh uang ini?
Toleransi risikoBerapa penurunan yang bisa saya terima?
Alokasi asetBerapa persen di saham, obligasi, pasar uang?
ProdukReksa dana mana yang saya beli?
JadwalBerapa dan kapan saya investasi?
RebalancingKapan saya menyeimbangkan portofolio?
Aturan “jangan”Apa yang tidak akan saya lakukan?

Luangkan 30 menit hari ini untuk menulis IPS Anda. Cetak dan tempel di tempat yang terlihat. Saat pasar jatuh dan Anda ingin panik — baca kembali. Itulah gunanya.


Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum membuat keputusan investasi.