Dividen Bukan Lebih Aman dari Jual Saham
Banyak yang menganggap hidup dari dividen lebih aman. Kenyataannya, dividen dan menjual saham secara matematis setara. Mari kita bedah miskonsepsi ini.
Dividen Bukan Lebih Aman dari Jual Saham
“Saya mau investasi saham dividen saja, biar dapat passive income tanpa jual saham.” Kalimat ini sangat populer di kalangan investor Indonesia. Terdengar logis — uang masuk tanpa mengurangi kepemilikan. Tapi secara matematis, dividen dan menjual saham adalah hal yang setara.
Mari kita bedah mengapa.
Apa yang Terjadi Saat Perusahaan Membayar Dividen?
Ketika sebuah perusahaan membayar dividen, harga sahamnya turun sebesar jumlah dividen tersebut. Ini bukan teori — ini mekanisme pasar yang pasti terjadi.
Contoh nyata:
- Saham BBCA harga Rp 10.000 per lembar
- Perusahaan membayar dividen Rp 200 per lembar
- Setelah ex-date, harga saham menjadi ~Rp 9.800
Total kekayaan Anda tidak berubah:
| Sebelum Dividen | Sesudah Dividen | |
|---|---|---|
| Nilai saham (100 lembar) | Rp 1.000.000 | Rp 980.000 |
| Uang tunai diterima | Rp 0 | Rp 20.000 |
| Total | Rp 1.000.000 | Rp 1.000.000 |
Dividen bukan “uang gratis.” Dividen adalah uang Anda sendiri yang dikembalikan dari nilai perusahaan.
Dividen = Forced Selling yang Tidak Efisien
Menerima dividen secara ekonomi sama dengan menjual sebagian kecil saham Anda. Bedanya:
- Anda tidak bisa memilih jumlahnya. Perusahaan yang menentukan berapa dividen yang dibayar.
- Anda tidak bisa memilih waktunya. Perusahaan yang menentukan kapan dividen dibayar.
- Pajak langsung dipotong. Dividen saham di Indonesia dikenakan PPh final 10%.
Sementara jika Anda menjual saham sendiri:
- Anda memilih berapa yang dijual
- Anda memilih kapan menjual
- Pajak penjualan saham hanya 0,1% dari nilai transaksi
Perbandingan pajak
| Metode | Pajak |
|---|---|
| Terima dividen Rp 1.000.000 | Rp 100.000 (PPh 10%) |
| Jual saham senilai Rp 1.000.000 | Rp 1.000 (PPh 0,1%) |
Selisih pajak: 100 kali lipat. Dari sisi pajak, menjual saham jauh lebih efisien di Indonesia.
Catatan: Sejak UU Cipta Kerja 2020, dividen bisa bebas pajak jika direinvestasikan dalam 3 bulan. Tapi ini justru menunjukkan bahwa dividen yang dipakai (bukan direinvestasi) memang kena pajak besar.
”Tapi Saya Tidak Mengurangi Jumlah Saham Saya”
Ini argumen paling umum. Jawabannya: jumlah lembar saham tidak relevan — yang relevan adalah total nilai portofolio Anda.
Analogi sederhana:
Bayangkan Anda punya kue seharga Rp 100.000. Ada dua cara mendapat Rp 10.000:
- Potong 10% kue dan jual → Anda punya 90% kue senilai Rp 90.000 + Rp 10.000 uang tunai
- Kue “mengeluarkan” Rp 10.000 dan menyusut 10% → Anda punya kue senilai Rp 90.000 + Rp 10.000 uang tunai
Hasilnya persis sama.
Memiliki 100 lembar saham @ Rp 9.800 + Rp 20.000 tunai secara finansial identik dengan memiliki 98 lembar saham @ Rp 10.000 + Rp 20.000 tunai. Total kekayaannya sama-sama Rp 1.000.000.
Mengapa Saham Dividen Tinggi Belum Tentu Lebih Baik?
Perusahaan yang membayar dividen tinggi artinya mengembalikan lebih banyak uang ke pemegang saham, alih-alih menginvestasikan kembali ke bisnis. Ini tidak selalu buruk, tapi juga tidak selalu bagus.
Beberapa fakta:
- Berkshire Hathaway (perusahaan Warren Buffett) tidak pernah membayar dividen — karena Buffett percaya perusahaan bisa mengalokasikan modal lebih baik daripada investor individual
- Perusahaan teknologi yang tumbuh pesat biasanya tidak bayar dividen — mereka menginvestasikan kembali profit untuk pertumbuhan
- Perusahaan yang dipaksa membayar dividen tinggi kadang mengorbankan pertumbuhan jangka panjang
Yang Seharusnya Anda Perhatikan: Total Return
Total return = capital gain + dividen. Ini yang benar-benar menentukan kekayaan Anda.
| Saham | Harga Naik | Dividen | Total Return |
|---|---|---|---|
| Saham A | +15% | 0% | 15% |
| Saham B | +10% | 5% | 15% |
| Saham C | +5% | 10% | 15% |
Ketiga saham ini memberikan return yang sama. Tidak ada yang “lebih aman” dari yang lain.
Dengan reksa dana indeks, Anda mendapat total return dari seluruh pasar. Dividen otomatis direinvestasikan oleh manajer investasi, sehingga Anda mendapat compound growth yang optimal — dan tanpa pajak dividen.
Kapan Dividen Masuk Akal?
Dividen bukan sepenuhnya tanpa manfaat. Ada beberapa situasi di mana fokus dividen bisa dipertimbangkan:
- Anda sudah pensiun dan butuh arus kas rutin — meskipun menjual sebagian portofolio sama efektifnya
- Anda tidak disiplin menabung — dividen “memaksa” perusahaan memberi Anda uang tunai
- Alasan psikologis — beberapa orang merasa lebih nyaman menerima “penghasilan” tanpa menjual
Tapi alasan psikologis bukan alasan finansial. Perasaan aman tidak sama dengan benar-benar aman.
Reksa Dana Indeks: Solusi yang Lebih Baik
Jika Anda berinvestasi melalui reksa dana indeks:
- Dividen dari saham-saham dalam indeks otomatis direinvestasikan
- Tidak ada PPh dividen yang perlu dibayar (karena reksa dana bebas pajak)
- Anda mendapat total return dari seluruh pasar, bukan hanya saham-saham “dividen tinggi”
- Ketika butuh uang, Anda bisa menjual unit reksa dana sebanyak yang Anda perlukan
Ini lebih fleksibel, lebih efisien pajak, dan secara matematis tidak kalah dari strategi “hidup dari dividen.”
Ringkasan
| Miskonsepsi | Kenyataan |
|---|---|
| Dividen adalah uang gratis | Dividen mengurangi nilai saham sebesar jumlah yang dibayar |
| Dividen lebih aman dari jual saham | Secara matematis setara |
| Jumlah saham tidak berkurang = lebih baik | Yang penting total nilai, bukan jumlah lembar |
| Saham dividen tinggi = investasi lebih baik | Total return yang menentukan, bukan dividen saja |
| Dividen lebih hemat pajak | Di Indonesia, pajak dividen (10%) jauh lebih tinggi dari pajak jual saham (0,1%) |
Fokus pada total return, bukan dividen. Gunakan reksa dana indeks untuk mendapatkan keduanya secara optimal.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.