Reksa Dana Campuran atau Racik Sendiri?
Perbandingan reksa dana campuran (pre-mixed) dengan meracik portofolio sendiri dari reksa dana indeks dan obligasi. Mana yang lebih cocok untuk Anda?
Reksa Dana Campuran atau Racik Sendiri?
Setelah memahami alokasi aset, Anda punya dua pilihan praktis:
- Beli reksa dana campuran — satu produk yang sudah berisi campuran saham dan obligasi
- Racik sendiri — beli reksa dana indeks saham dan reksa dana obligasi secara terpisah
Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.
Apa Itu Reksa Dana Campuran?
Reksa dana campuran (balanced fund) adalah reksa dana yang menginvestasikan dananya di campuran saham dan obligasi sekaligus. Komposisinya biasanya:
- Saham: 30-70%
- Obligasi dan pasar uang: 30-70%
Manajer investasi yang menentukan alokasi pastinya dan bisa mengubahnya sesuai kondisi pasar.
Apa Itu Racik Sendiri (DIY)?
Racik sendiri berarti Anda membeli produk terpisah dan menentukan proporsinya sendiri:
- Reksa dana indeks saham (misalnya Bahana IDX30) → 70%
- reksa dana pendapatan tetap (misalnya Sucorinvest Stable Fund) → 20%
- reksa dana pasar uang → 10%
Anda yang menentukan dan menjaga alokasi via rebalancing.
Perbandingan Lengkap
| Aspek | Reksa Dana Campuran | Racik Sendiri (DIY) |
|---|---|---|
| Kemudahan | ✅ Beli 1 produk, selesai | ❌ Perlu beli 2-3 produk, kelola sendiri |
| Kontrol alokasi | ❌ Ditentukan MI, bisa berubah | ✅ Anda tentukan sendiri |
| Transparansi | ❌ Alokasi bisa berubah tanpa Anda tahu | ✅ Anda tahu persis komposisinya |
| Biaya | ❌ Expense ratio lebih tinggi (1,5-3%) | ✅ Expense ratio lebih rendah (0,5-1%) |
| Rebalancing | ✅ Otomatis oleh MI | ❌ Harus Anda lakukan sendiri |
| Sesuai profil risiko | ❌ Alokasi tetap, tidak bisa disesuaikan | ✅ Bisa disesuaikan dengan usia/tujuan |
| Pajak | ✅ 0% (sama) | ✅ 0% (sama) |
Masalah Utama Reksa Dana Campuran di Indonesia
1. Biaya Tinggi
Reksa dana campuran di Indonesia biasanya mengenakan expense ratio 1,5-3% per tahun — karena ini adalah produk yang dikelola aktif. Bandingkan dengan meracik sendiri:
| Portofolio | Biaya per Tahun |
|---|---|
| Reksa dana campuran aktif | 1,5-3,0% |
| DIY: 70% reksa dana indeks (0,7%) + 30% reksa dana pendapatan tetap (0,8%) | ~0,73% rata-rata tertimbang |
| Selisih | ~1-2% per tahun |
Selisih 1-2% per tahun terdengar kecil, tapi dalam 20 tahun bisa mengurangi hasil investasi Rp 100 juta sebesar Rp 50-135 juta.
2. Kurang Transparan
Manajer investasi reksa dana campuran bisa mengubah alokasi saham-obligasi kapan saja. Mungkin hari ini 60% saham, bulan depan 40% saham. Anda tidak tahu pasti dan tidak bisa mengontrol.
Dengan DIY, Anda tahu persis: “70% uang saya di reksa dana indeks IDX30, 30% di reksa dana pendapatan tetap.”
3. Tidak Bisa Disesuaikan
Alokasi reksa dana campuran bersifat tetap per produk. Jika profil risiko Anda berubah (misalnya mendekati pensiun), Anda harus menjual dan pindah ke produk lain — alih-alih tinggal mengubah proporsi.
Kapan Reksa Dana Campuran Masuk Akal?
Meskipun DIY umumnya lebih baik, ada situasi di mana reksa dana campuran bisa jadi pilihan yang wajar:
- Anda benar-benar tidak mau repot — lebih baik investasi di reksa dana campuran daripada tidak investasi sama sekali
- Modal sangat kecil — jika Anda hanya investasi Rp 100.000 per bulan, membagi ke 3 produk terasa ribet
- Fitur robo-advisor Bibit — Bibit menawarkan alokasi otomatis yang mirip DIY tapi dengan kemudahan satu dashboard
Catatan tentang Robo-Advisor Bibit
Bibit memiliki fitur yang menarik: berdasarkan profil risiko Anda, aplikasi akan merekomendasikan alokasi antara reksa dana saham, pendapatan tetap, dan pasar uang. Ini pada dasarnya adalah DIY yang diotomasi.
| Aspek | Robo-Advisor Bibit | DIY Manual |
|---|---|---|
| Pemilihan alokasi | Otomatis berdasarkan profil | Anda tentukan sendiri |
| Produk | Dipilihkan oleh Bibit | Anda pilih sendiri |
| Biaya tambahan | 0% (di atas expense ratio produk) | 0% |
| Kontrol | Sedang — Anda bisa override | Penuh |
Robo-advisor Bibit bisa menjadi jalan tengah yang baik bagi pemula yang belum percaya diri meracik sendiri.
Bagaimana Meracik Portofolio DIY
Langkah 1: Tentukan Alokasi
Berdasarkan usia dan toleransi risiko (lihat artikel alokasi aset):
- Contoh: Usia 30 → 70% saham / 25% obligasi / 5% pasar uang
Langkah 2: Pilih Produk
| Komponen | Produk | Alokasi |
|---|---|---|
| Saham | Bahana IDX30 atau BNP Paribas SRI-KEHATI | 70% |
| Obligasi | Sucorinvest Stable Fund atau SBN ritel | 25% |
| Pasar uang | Bahana Dana Likuid | 5% |
Langkah 3: Investasi Rutin
Setiap bulan, investasikan sesuai proporsi:
- Investasi Rp 1 juta/bulan → Rp 700K saham + Rp 250K obligasi + Rp 50K pasar uang
Langkah 4: Rebalancing
Setiap 6-12 bulan, cek apakah proporsi masih sesuai target. Jika tidak, sesuaikan investasi bulan berikutnya.
Contoh Perbandingan 20 Tahun
Asumsi: investasi awal Rp 50 juta + Rp 1 juta per bulan, alokasi 70/30 saham/obligasi:
| Reksa Dana Campuran | DIY | |
|---|---|---|
| Return pasar | 10% per tahun | 10% per tahun |
| Expense ratio | 2,0% | 0,7% |
| Return bersih | 8,0% | 9,3% |
| Hasil setelah 20 tahun | ~Rp 853 juta | ~Rp 1.010 juta |
| Selisih | +Rp 157 juta |
Rp 157 juta lebih banyak hanya karena biaya yang lebih rendah. Itu dampak nyata dari selisih expense ratio 1,3% selama 20 tahun.
Kesimpulan
| Pilihan | Cocok Untuk |
|---|---|
| Reksa dana campuran | Investor yang benar-benar tidak mau kelola portofolio sama sekali |
| Robo-advisor (Bibit) | Pemula yang ingin kemudahan tapi biaya rendah |
| DIY | Investor yang mau meluangkan 30 menit per 6 bulan untuk rebalancing |
Rekomendasi: Jika Anda membaca artikel ini, Anda sudah cukup paham untuk meracik sendiri. Selisih biaya akan sangat terasa dalam jangka panjang. Tidak perlu rumit — cukup 2-3 produk dengan alokasi yang jelas.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.