Reksa Dana Aktif vs Pasif: Siapa Menang?

Data SPIVA dan riset global menunjukkan bahwa mayoritas reksa dana aktif kalah dari indeks. Bagaimana dengan Indonesia?

Reksa Dana Aktif vs Pasif: Siapa Menang?

Reksa dana aktif dikelola oleh manajer investasi profesional yang berusaha mengalahkan pasar. Reksa dana pasif (indeks) hanya mengikuti indeks — tanpa analisis, tanpa stock picking.

Mana yang lebih baik? Data dari seluruh dunia sudah menjawab pertanyaan ini dengan sangat jelas.

Apa Bedanya?

Reksa Dana AktifReksa Dana Indeks (Pasif)
TujuanMengalahkan indeksMenyamai indeks
Manajer investasiAktif memilih sahamMengikuti komposisi indeks
Biaya kelolaan (expense ratio)1,5% - 3,5% per tahun0,2% - 1% per tahun
Fee pembelian0% - 2%Biasanya 0%
Fee penjualan0% - 2%Biasanya 0%
Jumlah di Indonesia800+ produk<20 produk

Perbedaan biaya mungkin terlihat kecil. Tapi dalam jangka panjang, dampaknya luar biasa besar.

Data Global: SPIVA Scorecard

S&P Dow Jones Indices mempublikasikan SPIVA Scorecard setiap tahun — riset terlengkap yang membandingkan performa reksa dana aktif vs indeks di seluruh dunia.

Persentase reksa dana aktif yang KALAH dari indeks (per akhir 2024):

Negara/WilayahPeriode 5 tahunPeriode 10 tahunPeriode 15 tahun
AS (Large-Cap)79%87%92%
Eropa75%85%89%
Jepang65%72%81%
India65%70%78%
Australia78%83%87%
Asia ex-Jepang70%78%84%

Dalam periode 15 tahun, lebih dari 80-90% reksa dana aktif di hampir semua negara kalah dari indeks pasif.

Dan ini bukan karena manajer investasinya bodoh. Ini karena matematika.

Kenapa Reksa Dana Aktif Kalah? Tiga Alasan

1. Biaya yang lebih tinggi

Ini alasan utama dan paling penting.

Contoh perhitungan:

Reksa Dana AktifReksa Dana Indeks
Return pasar (bruto)10%10%
Expense ratio-2,5%-0,5%
Fee beli/jual (diamortisasi)-0,5%0%
Return bersih7%9,5%

Selisih 2,5% per tahun. Dampaknya setelah 20 tahun pada investasi Rp 100 juta:

Reksa Dana Aktif (7%)Reksa Dana Indeks (9,5%)
Setelah 10 tahunRp 197 jutaRp 248 juta
Setelah 20 tahunRp 387 jutaRp 616 juta
Setelah 30 tahunRp 761 jutaRp 1,53 miliar

Selisih biaya 2,5% per tahun menghasilkan perbedaan Rp 769 juta setelah 30 tahun. Itu hampir 8x investasi awal — hilang hanya karena biaya.

2. Zero-sum game sebelum biaya

Ini argumen William Sharpe (peraih Nobel):

  • Semua investor aktif secara rata-rata mendapat return pasar (karena mereka adalah pasar)
  • Setelah dikurangi biaya, rata-rata investor aktif pasti kalah dari pasar
  • Investor pasif mendapat return pasar minus biaya yang jauh lebih kecil

Ini bukan teori — ini aritmatika sederhana.

3. Konsistensi pemenang sangat buruk

Meskipun beberapa reksa dana aktif mengalahkan indeks dalam satu periode, mereka hampir tidak pernah bisa mengulanginya secara konsisten.

Data SPIVA Persistence Scorecard:

  • Dari reksa dana aktif AS yang masuk kuartil atas (25% terbaik) selama 2019-2021:
    • Hanya 25% yang tetap di kuartil atas di periode 2022-2024
    • Ini sama dengan probabilitas acak — tidak ada skill yang persisten

Memilih reksa dana aktif yang akan menang di masa depan sama sulitnya dengan memilih saham individual. Performa masa lalu bukan prediktor yang bisa diandalkan.

Bagaimana dengan Indonesia?

SPIVA juga mempublikasikan data untuk pasar Asia tenggara, meskipun data spesifik Indonesia masih terbatas. Berdasarkan data yang tersedia:

  • Biaya reksa dana aktif di Indonesia termasuk tertinggi di Asia — expense ratio rata-rata 2-3,5% untuk reksa dana saham
  • Biaya reksa dana indeks di Indonesia — expense ratio 0,2-1%
  • Selisih biaya yang besar ini membuat reksa dana aktif Indonesia harus mengalahkan indeks dengan margin yang sangat besar hanya untuk impas

Perbandingan produk nyata (per 2025):

ProdukTipeExpense RatioBenchmark
BNP Paribas SRI-KEHATIIndeks~0,5%SRI-KEHATI
Bahana IDX30Indeks~0,4%IDX30
Schroder Dana PrestasiAktif~2,5%IHSG
Manulife Saham AndalanAktif~2,8%LQ45

Reksa dana aktif harus memberikan return 2% lebih tinggi dari indeks setiap tahun hanya untuk mengompensasi biayanya. Dalam praktik, sangat sedikit yang bisa melakukan ini secara konsisten.

”Tapi Indonesia Masih Inefficient Market”

Argumen yang sering didengar: “Pasar Indonesia belum efisien seperti AS, jadi manajer aktif masih bisa menang.”

Ada benarnya — pasar Indonesia memang kurang efisien dibanding AS. Tapi:

  1. Data SPIVA menunjukkan reksa dana aktif juga kalah di pasar emerging markets — termasuk India, Brazil, dan Asia
  2. Ketidakefisienan pasar bisa dieksploitasi oleh siapa saja — termasuk manajer investasi lain. Mereka saling bersaing, mengurangi keuntungan satu sama lain
  3. Bahkan jika beberapa manajer menang, Anda tidak tahu yang mana sebelumnya — dan biaya mencoba menebak sangat tinggi

Keunggulan Tambahan Reksa Dana Indeks di Indonesia

1. Pajak

Baik reksa dana aktif maupun pasif sama-sama bebas pajak untuk individu di Indonesia. Jadi keunggulan pajak tidak membedakan keduanya. Tapi karena reksa dana indeks punya return bersih lebih tinggi (biaya lebih rendah), jumlah yang bebas pajak juga lebih besar.

2. Transparansi

Anda selalu tahu apa yang ada dalam reksa dana indeks — saham-saham dalam indeks IDX30, LQ45, atau SRI-KEHATI sudah dipublikasikan. Reksa dana aktif? Anda hanya tahu komposisinya dari laporan bulanan yang sudah lewat.

3. Kesederhanaan

Tidak perlu menganalisis track record manajer investasi, strategi investasi, atau style drift. Pilih indeks yang Anda inginkan, beli, selesai.

Apa yang Harus Dilakukan?

  1. Untuk porsi saham Indonesia: pilih reksa dana indeks (Bahana IDX30, BNP Paribas SRI-KEHATI, atau yang sejenis)
  2. Bandingkan expense ratio sebelum membeli — pilih yang paling rendah untuk indeks yang sama
  3. Jangan tergoda track record masa lalu reksa dana aktif — data menunjukkan ini tidak bertahan
  4. Investasi rutin setiap bulan — konsistensi lebih penting dari pemilihan produk

Ringkasan

FaktaData
% reksa dana aktif yang kalah dari indeks (15 tahun, global)80-92%
Selisih expense ratio tipikal di Indonesia2-3% per tahun
Dampak selisih biaya 2,5% selama 30 tahun (Rp 100 juta)Rp 769 juta hilang
Apakah pemenang masa lalu tetap menang?Tidak — konsistensi sama dengan acak

Reksa dana aktif bukan scam. Manajer investasinya profesional dan bekerja keras. Tapi biaya yang mereka kenakan hampir selalu lebih besar dari nilai tambah yang mereka berikan.

Pilih reksa dana indeks. Bayar biaya rendah. Biarkan compound interest bekerja untuk Anda, bukan untuk manajer investasi.


Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum membuat keputusan investasi.