Mengapa Dividen Bukan Segalanya
Banyak investor terobsesi dengan dividen. Tapi dividen bukan uang gratis — dan fokus berlebihan pada dividen bisa merugikan portofolio Anda.
Mengapa Dividen Bukan Segalanya
“Cari saham yang dividennya besar!” Nasihat ini ada di mana-mana — YouTube, forum, grup Telegram. Dividen memang menarik: uang masuk ke rekening tanpa harus menjual saham. Terasa seperti “uang gratis.”
Tapi dividen bukan uang gratis. Dan fokus berlebihan pada dividen bisa membuat portofolio Anda tidak optimal.
Apa Itu Dividen?
Dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham. Jika perusahaan untung Rp 1 triliun dan memutuskan membagikan 50%, maka Rp 500 miliar dibagikan ke seluruh pemegang saham.
Contoh Sederhana
| Detail | Angka |
|---|---|
| Harga saham | Rp 10.000 |
| Dividen per saham | Rp 500 |
| Dividend yield | 5% |
Terlihat bagus, kan? Tapi tunggu dulu.
Mengapa Dividen Bukan “Uang Gratis”
1. Harga Saham Turun Saat Ex-Date
Ketika perusahaan membayar dividen, harga saham turun persis sebesar dividen pada tanggal ex-dividen. Ini bukan kebetulan — ini mekanis.
Contoh:
- Harga saham sebelum ex-date: Rp 10.000
- Dividen: Rp 500
- Harga saham setelah ex-date: Rp 9.500
Total kekayaan Anda tetap sama: Rp 9.500 (saham) + Rp 500 (cash dividen) = Rp 10.000.
Dividen hanyalah memindahkan uang dari kantong kiri ke kantong kanan. Anda tidak menjadi lebih kaya karena dividen.
2. Dividen Dipajaki
Di Indonesia, dividen saham dikenakan PPh final 10%. Artinya dari dividen Rp 500, yang Anda terima hanya Rp 450.
Catatan: Sejak UU Cipta Kerja (2021), dividen dari dalam negeri bisa bebas pajak jika diinvestasikan kembali dalam instrumen tertentu selama minimal 3 tahun. Tapi banyak investor ritel yang tidak memanfaatkan ini.
Bandingkan dengan capital gains:
- Pajak penjualan saham di bursa: 0,1% dari nilai jual (bukan dari keuntungan)
- Pajak ini jauh lebih rendah dari PPh dividen 10%
3. Perusahaan yang Tidak Bayar Dividen Bukan Berarti Buruk
Banyak perusahaan terbaik di dunia tidak membayar dividen (atau membayar sangat kecil) karena mereka menginvestasikan kembali keuntungan untuk pertumbuhan.
Amazon tidak membayar dividen selama puluhan tahun. Hasilnya? Pertumbuhan harga saham yang luar biasa. Investor mendapat return melalui capital appreciation, bukan dividen.
Total Return: Yang Seharusnya Anda Perhatikan
Apa Itu Total Return?
Total return = Capital gains + Dividen
| Saham A (Dividen Tinggi) | Saham B (Tanpa Dividen) |
|---|---|
| Harga naik 5% | Harga naik 12% |
| Dividen 5% | Dividen 0% |
| Total return: 10% | Total return: 12% |
Saham B memberikan total return lebih tinggi meskipun tidak bayar dividen. Dividen yield yang tinggi tidak berarti return total yang tinggi.
Analogi
Bayangkan Anda punya pohon yang menghasilkan 10 buah per tahun. Anda bisa:
- Opsi A: Petik 5 buah (dividen), biarkan 5 tumbuh → pohon tumbuh lambat
- Opsi B: Biarkan semua 10 buah jatuh dan tumbuh → pohon tumbuh cepat, tahun depan menghasilkan 15 buah
Dividen = memetik buah. Tidak membayar dividen = membiarkan buah menumbuhkan pohon lebih besar.
Jebakan Dividen (Dividend Trap)
Yield Tinggi Bisa Berarti Bahaya
Dividend yield dihitung sebagai: Dividen / Harga Saham
Jika harga saham turun drastis (karena perusahaan bermasalah), yield terlihat tinggi — tapi ini tanda bahaya, bukan kesempatan.
Contoh:
- Saham X dulu Rp 10.000, dividen Rp 500 → yield 5%
- Saham X turun ke Rp 2.500, dividen masih Rp 500 → yield 20%
Yield 20% terlihat fantastis, tapi harga turun 75% karena alasan fundamental. Dividen mungkin akan dipotong tahun depan. Ini yang disebut dividend trap.
Perusahaan yang Bayar Dividen Besar Tidak Selalu Sehat
Beberapa perusahaan membayar dividen besar karena:
- Tidak punya prospek pertumbuhan (jadi kembalikan uang ke investor)
- Pemegang saham mayoritas butuh cash
- Ingin menarik investor ritel
Ini tidak selalu berarti perusahaan bagus.
Dividen dan Investor Pasif
Reksa Dana Indeks Sudah Menangani Dividen
Jika Anda berinvestasi melalui reksa dana indeks, dividen otomatis diinvestasikan kembali ke dalam NAV reksa dana. Anda tidak perlu memikirkan dividen sama sekali — total return sudah tercermin dalam harga reksa dana.
Tidak Perlu “Strategi Dividen” Khusus
Banyak influencer menjual ide bahwa Anda perlu:
- Portofolio khusus saham dividen tinggi
- Strategi “dividend capture”
- Target “passive income dari dividen”
Untuk investor pasif, semua ini tidak perlu. Reksa dana indeks yang terdiversifikasi sudah memberikan total return optimal — termasuk dividen yang direinvestasi.
Kapan Dividen Relevan?
Saat Anda Sudah Pensiun
Jika Anda sudah tidak punya penghasilan aktif dan hidup dari portofolio investasi, menerima dividen bisa menjadi salah satu sumber cashflow — meskipun secara matematis, menjual sebagian unit reksa dana memberikan hasil yang sama.
Secara Psikologis
Beberapa investor merasa senang menerima “uang masuk” tanpa menjual aset. Tidak ada yang salah dengan preferensi ini, selama Anda tidak mengorbankan diversifikasi demi mengejar yield tinggi.
Kesalahan yang Harus Dihindari
1. Membeli saham hanya karena dividen yield tinggi
Yield tinggi bisa berarti perusahaan bermasalah. Lihat fundamentalnya, bukan hanya yield.
2. Menjual saham yang tidak bayar dividen
Perusahaan bertumbuh sering lebih baik menginvestasikan kembali keuntungan. Tidak ada dividen ≠ investasi buruk.
3. Menganggap dividen sebagai “passive income” yang terpisah dari investasi
Dividen keluar dari harga saham. Ini bukan penghasilan tambahan — ini bagian dari total return yang Anda sudah miliki.
4. Membangun portofolio yang tidak terdiversifikasi demi mengejar dividen
Sektor tertentu (banking, consumer staples) cenderung bayar dividen tinggi. Jika Anda hanya beli sektor ini, portofolio Anda tidak terdiversifikasi.
Ringkasan
| Mitos | Fakta |
|---|---|
| Dividen adalah uang gratis | Harga saham turun sebesar dividen saat ex-date |
| Dividen yield tinggi = investasi bagus | Yield tinggi bisa tanda bahaya |
| Perusahaan tanpa dividen = buruk | Banyak perusahaan terbaik tidak bayar dividen |
| Harus punya “portofolio dividen” | Reksa dana indeks sudah menangani ini otomatis |
Fokus pada total return, bukan dividen saja. Reksa dana indeks yang terdiversifikasi luas dan berbiaya rendah sudah memberikan kombinasi optimal dari capital gains dan dividen.
Membosankan? Ya. Efektif? Sangat.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.