Kenapa Tidak Invest Semua di IHSG Saja?

IHSG adalah pasar saham Indonesia, tapi menaruh semua uang di satu negara adalah taruhan besar. Pelajari mengapa diversifikasi penting.

Kenapa Tidak Invest Semua di IHSG Saja?

“Saya tinggal di Indonesia, penghasilan dalam Rupiah, jadi investasi di IHSG saja sudah cukup.” Logika ini terdengar masuk akal, tapi mengandung risiko tersembunyi yang sering diabaikan.

Menaruh 100% portofolio di satu negara — meskipun negara sendiri — adalah bentuk konsentrasi risiko yang bisa mahal harganya.

Home Bias: Kecenderungan Alami yang Berbahaya

Home bias adalah kecenderungan investor untuk menaruh porsi terlalu besar di pasar saham negara sendiri. Ini terjadi di semua negara:

  • Investor Jepang menaruh 55% di saham Jepang (padahal Jepang hanya 6% pasar global)
  • Investor Australia menaruh 60%+ di saham Australia (padahal Australia hanya 2% pasar global)
  • Investor Indonesia? Hampir 100% di IHSG (padahal Indonesia hanya ~0,3% pasar saham global)

Anda menaruh seluruh kekayaan investasi di 0,3% pasar dunia. Itu bukan diversifikasi — itu konsentrasi ekstrem.

IHSG: Bagus, Tapi Tidak Selalu

Performa IHSG memang cukup baik dalam jangka panjang. Tapi ada periode panjang di mana IHSG sangat mengecewakan:

PeriodePerforma IHSGCatatan
1997-1998-65%Krisis Asia, ekonomi Indonesia kolaps
2008-51%Krisis finansial global
2013-1%Taper tantrum, Rupiah melemah tajam
2015-12%Perlambatan ekonomi China
2020-5% (tahunan)COVID-19
2008-2015 (7 tahun)Volatile, sidewaysInvestor yang masuk di puncak 2007 harus menunggu bertahun-tahun

Bandingkan dengan pasar AS (S&P 500) yang selama periode 2010-2024 naik lebih dari 400%. IHSG naik sekitar 50-60% di periode yang sama.

Tidak ada pasar yang selalu menang. Tapi jika Anda hanya punya IHSG, Anda sepenuhnya tergantung pada ekonomi Indonesia.

Masalah Struktural IHSG

1. Sangat terkonsentrasi di beberapa sektor

IHSG didominasi oleh:

  • Perbankan (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) — sekitar 30-35% dari IHSG
  • Komoditas (ADRO, PTBA, ANTM) — sangat cyclical
  • Telekomunikasi (TLKM) — satu perusahaan dominan

Jika sektor perbankan Indonesia bermasalah, IHSG akan jatuh drastis. Tidak ada diversifikasi sektor yang memadai.

2. Kurangnya perusahaan teknologi

Perusahaan teknologi terbesar dunia (Apple, Microsoft, Google, NVIDIA) tidak ada di IHSG. Ekonomi digital global tumbuh pesat, tapi investor IHSG tidak mendapat manfaatnya.

Indonesia punya GoTo (GOTO) dan Bukalapak (BUKA), tapi performanya sejak IPO sangat mengecewakan — turun 60-80% dari harga IPO.

3. risiko mata uang

Rupiah cenderung melemah terhadap USD dalam jangka panjang:

  • 2000: ~Rp 8.500/USD
  • 2010: ~Rp 9.000/USD
  • 2020: ~Rp 14.000/USD
  • 2025: ~Rp 16.000/USD

Jika seluruh investasi Anda dalam Rupiah, kekayaan Anda dalam dolar (daya beli internasional) terus tergerus. Investasi di aset berdenominasi USD membantu melindungi dari depresiasi Rupiah.

Apa Solusinya?

Bukan berarti Anda tidak boleh investasi di IHSG. IHSG tetap harus jadi bagian dari portofolio Anda. Tapi jangan 100%.

Opsi diversifikasi global dari Indonesia:

OpsiCara AksesKelebihanKekurangan
Reksa dana indeks IHSGBibit, BareksaMudah, murah, bebas pajakHanya Indonesia
reksa dana saham globalBeberapa MI menyediakanDiversifikasi global via RupiahPilihan terbatas, expense ratio tinggi
Saham AS via broker lokalGotrade, Pluang, Stockbit GlobalAkses langsung ke S&P 500 stocksBiaya transfer, pajak lebih kompleks
ETF global via broker asingInteractive BrokersAkses penuh ke ETF globalMinimum tinggi, pajak lebih rumit

Alokasi yang masuk akal:

ProfilIHSGGlobal/USD
Konservatif80%20%
Moderat60-70%30-40%
Agresif50%50%

Tidak ada angka “benar” — yang penting Anda tidak 100% di satu pasar.

”Tapi Saya Butuh Rupiah untuk Hidup Sehari-hari”

Benar, dan ini argumen yang valid. Tapi:

  1. Anda tidak akan menggunakan investasi jangka panjang untuk belanja sehari-hari. Investasi ini untuk 10-30 tahun dari sekarang.
  2. Dalam 10-30 tahun, siapa yang tahu nilai Rupiah? Diversifikasi mata uang adalah perlindungan.
  3. Banyak kebutuhan masa depan berdenominasi dolar: pendidikan anak di luar negeri, barang impor, teknologi, bahkan travelling.

Pelajaran dari Negara Lain

Investor di negara-negara berikut yang hanya mengandalkan pasar lokal mengalami kerugian besar:

  • Jepang: Nikkei mencapai puncak 38.916 pada 1989. Baru kembali ke level itu pada 2024 — 35 tahun kemudian.
  • Rusia: Pasar saham Rusia ditutup setelah invasi Ukraina 2022. Investor asing kehilangan segalanya.
  • Argentina: Inflasi 100%+ per tahun menghancurkan nilai aset dalam mata uang lokal.

Indonesia bukan Jepang atau Argentina, tapi kita tidak bisa memprediksi masa depan. Diversifikasi adalah asuransi terhadap skenario buruk.

Apa yang Bisa Dilakukan Sekarang

  1. Tetap investasi di IHSG melalui reksa dana indeks (Bahana IDX30, BNP Paribas SRI-KEHATI)
  2. Tambahkan eksposur global — mulai dari 10-20% portofolio
  3. Cara termudah: buka akun di Gotrade atau Pluang, beli ETF S&P 500 (VOO/SPY) secara rutin
  4. Atau: cari reksa dana saham global yang tersedia di Bibit/Bareksa

Diversifikasi tidak harus rumit. Memulai dengan porsi kecil di aset global sudah jauh lebih baik daripada 100% IHSG.

Ringkasan

MiskonsepsiKenyataan
IHSG cukup untuk diversifikasiIndonesia hanya 0,3% pasar saham global
IHSG selalu naik jangka panjangAda periode panjang sideways dan penurunan besar
Saya tidak perlu aset dolarRupiah melemah rata-rata 3-4% per tahun vs USD
Investasi global terlalu ribetSudah bisa dilakukan dari HP via Gotrade, Pluang

IHSG tetap penting dalam portofolio Anda — tapi jangan jadikan satu-satunya.


Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum membuat keputusan investasi.