IHSG Sedang Turun — Haruskah Saya Tunggu?

Pasar saham sedang turun. Apakah sebaiknya menunggu sampai pulih? Data dan logika di balik mengapa menunggu biasanya bukan ide yang baik.

IHSG Sedang Turun — Haruskah Saya Tunggu?

“Pasar lagi turun, mending tunggu dulu ya?” Pertanyaan ini muncul setiap kali IHSG terkoreksi. Terdengar logis — mengapa beli sekarang kalau besok bisa lebih murah?

Tapi logika ini menyimpan jebakan besar.

Jebakan “Tunggu Sampai Stabil”

Masalah #1: Kapan “stabil”?

Ketika IHSG turun 10%, Anda berpikir: “Tunggu dulu.” Lalu turun 15%, Anda berpikir: “Tuh kan, untung belum beli.” Lalu turun 20%, Anda berpikir: “Bisa turun lagi.”

Lalu IHSG naik 5% dari titik terendah. Anda berpikir: “Ini cuma dead cat bounce, tunggu lagi.” Naik 10%: “Sudah kemahalan.” Naik 20%: “Saya ketinggalan.”

Tidak ada sinyal yang jelas kapan pasar sudah “aman.” Karena pasar tidak pernah benar-benar “aman” — selalu ada ketidakpastian.

Masalah #2: Hari-hari terbaik terjadi saat krisis

Ini fakta yang mengejutkan: hari-hari dengan kenaikan terbesar di pasar saham terjadi tepat di sekitar hari-hari penurunan terbesar.

Data dari pasar global menunjukkan:

  • Jika Anda melewatkan 10 hari terbaik dalam 20 tahun, return Anda bisa berkurang setengah
  • Kebanyakan hari terbaik terjadi dalam hitungan minggu setelah hari terburuk
  • Anda tidak bisa mendapat hari-hari terbaik tanpa hadir saat hari-hari terburuk

Masalah #3: Menunggu = market timing

Memutuskan untuk menunggu adalah bentuk market timing — mencoba memprediksi arah pasar jangka pendek. Riset menunjukkan bahwa market timing konsisten gagal, bahkan bagi manajer investasi profesional.

Apa Kata Data?

Investor yang selalu investasi di “waktu terburuk”

Ada simulasi klasik yang menarik: bayangkan investor paling sial di dunia — dia selalu berinvestasi tepat sebelum pasar turun besar. Dia investasi tepat sebelum krisis 1998, tepat sebelum 2008, tepat sebelum 2020.

Hasilnya? Dalam jangka panjang (20+ tahun), bahkan investor paling sial ini tetap untung, selama dia tidak menjual saat pasar turun dan terus berinvestasi secara rutin.

Time in the market > timing the market

StrategiReturn 20 Tahun (Ilustrasi)
Investasi Rp 1 juta per bulan, konsistenReturn total positif
Investasi hanya saat “merasa aman”Return lebih rendah + banyak uang menganggur
Tunggu sampai “pasti aman”Tidak pernah mulai investasi

”Tapi Bagaimana Kalau Turun Lebih Dalam?”

Ya, bisa. Tidak ada yang tahu. Dan justru itu intinya.

Jika Anda investasi rutin (DCA — Dollar Cost Averaging):

  • Saat pasar turun → Anda membeli unit lebih banyak dengan harga lebih murah
  • Saat pasar naik → unit yang sudah Anda beli meningkat nilainya

Penurunan pasar menguntungkan investor jangka panjang yang masih dalam fase akumulasi.

Analogi Sederhana

Bayangkan Anda membeli beras setiap bulan. Jika harga beras turun, apakah Anda berhenti membeli? Tentu tidak — Anda justru senang karena dapat lebih banyak.

Saham tidak berbeda. Jika Anda percaya bahwa dalam jangka panjang ekonomi akan tumbuh (dan sejarah menunjukkan ini benar), maka harga murah adalah kesempatan.

Kapan “Menunggu” Masuk Akal?

Ada beberapa situasi di mana menunda investasi bisa dibenarkan:

  1. Anda belum punya dana darurat. Prioritaskan ini dulu.
  2. Anda punya utang berbunga tinggi (kartu kredit, pinjol). Lunasi dulu.
  3. Anda akan membutuhkan uang dalam 1-2 tahun. Uang ini memang tidak cocok untuk saham, pasar turun atau tidak.

Tapi “pasar sedang turun” bukan alasan yang valid untuk menunggu.

Psikologi di Balik Keinginan Menunggu

Loss Aversion

Manusia merasakan kerugian 2x lebih menyakitkan dari keuntungan. Membeli dan melihat portofolio turun 10% terasa jauh lebih buruk dari tidak membeli dan melihat pasar naik 10%.

Recency Bias

Kita cenderung menganggap kondisi terbaru akan berlanjut. Pasar turun minggu ini → otak kita berpikir akan turun terus. Padahal tidak ada hubungannya.

Ilusi Kontrol

Menunggu memberi ilusi bahwa kita mengendalikan situasi. Padahal kita hanya menunda keputusan tanpa informasi tambahan yang berguna.

Apa yang Harus Dilakukan?

Jika Anda Belum Mulai Investasi

Mulai sekarang. Tidak perlu all-in — mulai dengan jumlah kecil yang Anda nyaman. Rp 100.000 per bulan juga tidak apa-apa. Yang penting mulai.

Jika Anda Sudah Investasi Rutin

Terus lanjutkan. Jangan hentikan investasi rutin hanya karena pasar turun. Justru ini saat Anda mendapat “diskon.”

Jika Anda Punya Uang Lump Sum

Jika ragu, bagi menjadi beberapa bagian dan investasikan bertahap selama 3-6 bulan. Ini mungkin bukan strategi optimal secara matematis (lihat artikel lump sum vs DCA), tapi bisa membantu secara psikologis.

Pertanyaan untuk Diri Sendiri

Sebelum memutuskan menunggu, tanyakan:

  1. Apa yang saya tunggu? Jika jawabannya tidak spesifik (“sampai stabil,” “sampai aman”), maka Anda tidak punya rencana — hanya menunda.
  2. Apa sinyal yang membuat saya mau mulai? Jika tidak ada sinyal yang jelas, Anda mungkin tidak akan pernah mulai.
  3. Apakah saya masih akan berinvestasi jika pasar sudah naik 20%? Jika ya, mengapa tidak investasi sekarang saat harga lebih murah?

Ringkasan

MitosFakta
”Tunggu sampai pasar stabil”Tidak ada definisi “stabil” — selalu ada ketidakpastian
”Nanti saja kalau sudah murah”Anda tidak tahu kapan harga terendah
”Investasi saat pasar turun = rugi”Investasi rutin saat pasar turun = beli murah
”Profesional bisa timing the market”Riset menunjukkan mereka juga tidak bisa

Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang.

Hal yang sama berlaku untuk investasi.


Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum membuat keputusan investasi.