Premi Risiko Dijelaskan

Mengapa saham memberikan return lebih tinggi dari deposito? Memahami konsep premi risiko dan implikasinya untuk portofolio Anda.

Premi Risiko Dijelaskan

Mengapa saham memberikan return lebih tinggi dari deposito? Mengapa obligasi korporasi membayar bunga lebih tinggi dari SBN? Jawabannya ada pada satu konsep fundamental: premi risiko (risk premium).

Memahami konsep ini akan mengubah cara Anda melihat investasi.

Konsep Dasar

Return Bebas Risiko

Titik awal dari semua investasi adalah return bebas risiko (risk-free rate) — return yang bisa Anda dapatkan tanpa mengambil risiko apa pun.

Di Indonesia, acuan paling mendekati adalah SBN (Surat Berharga Negara) atau BI rate. Per awal 2025, ini berkisar di angka 5-6% per tahun.

Mengapa ini disebut “bebas risiko”? Karena dijamin oleh negara. Selama Republik Indonesia masih ada, SBN akan dibayar.

Premi Risiko = Kompensasi untuk Risiko Tambahan

Jika Anda bisa mendapat 6% per tahun tanpa risiko dari SBN, mengapa Anda mau berinvestasi di saham yang bisa turun 30% dalam setahun?

Karena saham menawarkan return tambahan di atas return bebas risiko — inilah premi risiko.

Rumus sederhananya:

Return yang diharapkan = Return bebas risiko + Premi risiko

Premi Risiko untuk Berbagai Kelas Aset

Kelas AsetReturn Historis (Nominal)Premi Risiko di Atas SBNRisiko
Deposito3-4%Negatif (di bawah SBN)Sangat rendah
SBN5-7%0% (acuan)Sangat rendah
Obligasi korporasi7-10%2-4%Rendah-sedang
Saham (IHSG)10-14%5-8%Sedang-tinggi
Saham small capBervariasi7-10% (teori)Tinggi

Equity Risk Premium (ERP)

Equity risk premium atau premi risiko saham adalah konsep yang paling penting. Ini menunjukkan berapa return tambahan yang investor dapatkan karena berinvestasi di saham dibandingkan instrumen bebas risiko.

Di Indonesia, ERP historis berkisar 5-8% per tahun. Artinya, dalam jangka panjang, investor saham diharapkan mendapat 5-8% lebih banyak per tahun dibandingkan investor SBN.

Tapi ini hanya rata-rata jangka panjang. Dalam tahun tertentu, saham bisa memberikan return -30% atau +50%.

Mengapa Premi Risiko Ada?

1. Kompensasi untuk Ketidakpastian

Manusia secara alami menghindari risiko (risk averse). Untuk membuat orang mau menerima risiko, harus ada imbalan tambahan.

2. Kemungkinan Rugi

Saham bisa turun. Obligasi korporasi bisa gagal bayar. Risiko kehilangan uang adalah nyata. Premi risiko mengkompensasi kemungkinan ini.

3. Volatilitas Emosional

Bahkan jika Anda tahu saham akan naik dalam 20 tahun, menonton portofolio turun 30% sangat tidak menyenangkan. Premi risiko juga mengkompensasi beban psikologis ini.

Implikasi Praktis untuk Investor

1. Tidak Ada Return Tinggi Tanpa Risiko

Jika seseorang menawarkan return 20% per tahun “tanpa risiko,” itu pasti scam. Return bebas risiko di Indonesia sekitar 5-6%. Apa pun di atasnya pasti mengandung risiko — yang mungkin tidak dijelaskan ke Anda.

2. Risiko yang Tidak Dibayar

Tidak semua risiko diberi premi. Risiko yang bisa dihilangkan melalui diversifikasi tidak mendapat kompensasi. Ini disebut risiko unsystematic atau risiko spesifik.

Contoh: Membeli satu saham saja sangat berisiko. Tapi risiko tambahan dari konsentrasi pada satu saham tidak dibayar oleh pasar. Anda bisa menghilangkan risiko itu dengan diversifikasi — membeli banyak saham melalui reksa dana indeks.

3. Premi Risiko Bisa Berubah

Premi risiko tidak konstan. Kadang pasar membayar premi besar untuk risiko (saat investor ketakutan), kadang kecil (saat investor euforia).

Anda tidak bisa memprediksi atau mengontrol ini. Yang bisa Anda kontrol: tetap berinvestasi secara konsisten.

4. Waktu Adalah Teman Anda

Premi risiko saham sering negatif dalam jangka pendek (artinya saham kalah dari deposito). Tapi semakin panjang periode investasi, semakin besar kemungkinan Anda menangkap premi risiko positif.

Periode InvestasiKemungkinan Saham Mengalahkan SBN
1 tahun~60%
5 tahun~75%
10 tahun~85%
20 tahun~95%

Angka di atas adalah perkiraan berdasarkan data historis global. Tapi pesannya jelas: semakin lama Anda berinvestasi, semakin kecil kemungkinan Anda merugi.

Premi Risiko dan Alokasi Aset

Memahami premi risiko membantu Anda menentukan alokasi aset yang tepat:

  • Jika horizon investasi panjang (> 10 tahun): Anda punya waktu untuk menangkap premi risiko saham → alokasi lebih besar ke saham
  • Jika horizon pendek (< 3 tahun): Premi risiko mungkin tidak sempat terwujud → alokasi lebih besar ke obligasi/pasar uang
  • Jika toleransi risiko rendah: Alokasikan lebih sedikit ke saham, meski horizon panjang

Kesalahan Umum

”Return masa lalu menjamin return masa depan”

Tidak. Premi risiko adalah ekspektasi, bukan jaminan. Saham bisa berkinerja buruk selama bertahun-tahun.

”Risiko tinggi pasti berarti return tinggi”

Tidak. Risiko tinggi berarti kemungkinan return tinggi. Bisa juga berarti kerugian besar. Kripto sangat berisiko, tapi tidak ada jaminan return tinggi.

”Saya bisa menghilangkan risiko tapi tetap dapat premi”

Tidak bisa. Premi risiko ada karena risiko ada. Menghilangkan risiko = menghilangkan premi.

Ringkasan

Premi risiko adalah konsep paling mendasar dalam investasi:

  1. Return tambahan yang Anda dapatkan karena menerima risiko
  2. Semakin tinggi risiko, semakin tinggi premi yang diharapkan (tapi tidak dijamin)
  3. Diversifikasi menghilangkan risiko yang tidak dibayar
  4. Waktu adalah cara terbaik untuk menangkap premi risiko
  5. Tidak ada return tinggi tanpa risiko — jika ada yang bilang sebaliknya, lari

Investasi pasif bekerja karena memanfaatkan premi risiko secara efisien: diversifikasi luas, biaya rendah, dan waktu yang panjang.


Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum membuat keputusan investasi.