Deposito vs SBN vs Reksa Dana Pasar Uang
Perbandingan lengkap tiga instrumen pendapatan tetap populer di Indonesia: deposito bank, Surat Berharga Negara, dan reksa dana pasar uang.
Deposito vs SBN vs Reksa Dana Pasar Uang
Tiga instrumen ini sering disebut sebagai pilihan untuk “uang yang tidak mau hilang.” Semuanya berisiko rendah, tapi punya karakteristik yang sangat berbeda. Mari kita bandingkan secara detail.
Deposito Bank
Cara Kerja
Anda menempatkan uang di bank untuk jangka waktu tertentu (1, 3, 6, atau 12 bulan). Bank membayar bunga tetap. Jika dicairkan sebelum jatuh tempo, biasanya kena penalti.
Angka-Angka Penting
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Bunga tipikal | 2,5-4% per tahun (tergantung bank dan jumlah) |
| Pajak bunga | PPh Final 20% |
| Return setelah pajak | 2-3,2% |
| Minimum | Rp 1-10 juta (tergantung bank) |
| Penjaminan LPS | Ya, hingga Rp 2 miliar per nasabah per bank |
| Likuiditas | Rendah — penalti jika cairkan sebelum jatuh tempo |
Kelebihan
- Sangat mudah dipahami — semua orang tahu apa itu deposito
- Dijamin LPS hingga Rp 2 miliar
- Return pasti — tidak ada fluktuasi harga
Kekurangan
- Return setelah pajak sering kalah dari inflasi. Jika inflasi 4% dan return deposito setelah pajak 2,5%, uang Anda berkurang nilainya secara riil.
- Tidak likuid — terkunci selama tenor
- Pajak 20% memotong return signifikan
Surat Berharga Negara (SBN) Ritel
Jenis-Jenis SBN Ritel
| Produk | Tenor | Kupon | Bisa Dijual Sebelum Jatuh Tempo? |
|---|---|---|---|
| ORI (Obligasi Negara Ritel) | 3 tahun | Tetap | Ya, di pasar sekunder |
| SR (sukuk ritel) | 3 tahun | Tetap | Ya, di pasar sekunder |
| SBR (Savings Bond Ritel) | 2 tahun | Mengambang (floating) | Tidak (tapi ada early redemption terbatas) |
| ST (Sukuk Tabungan) | 2 tahun | Mengambang | Tidak (early redemption terbatas) |
Angka-Angka Penting
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Kupon tipikal | 5-7% per tahun (tergantung seri) |
| Pajak kupon | PPh Final 10% |
| Return setelah pajak | 4,5-6,3% |
| Minimum | Rp 1 juta |
| Maksimum | Rp 5 miliar |
| Risiko gagal bayar | Sangat rendah (dijamin negara) |
Kelebihan
- Return lebih tinggi dari deposito — baik sebelum maupun setelah pajak
- Pajak lebih rendah — hanya 10% vs 20% untuk deposito
- Dijamin negara — risiko gagal bayar nyaris nol
- Minimum terjangkau — Rp 1 juta
Kekurangan
- Hanya tersedia saat penawaran — pemerintah menerbitkan SBN ritel beberapa kali setahun, bukan setiap saat
- Tenor tetap — uang terkunci 2-3 tahun (kecuali ORI/SR yang bisa dijual di pasar sekunder)
- Harga bisa fluktuasi di pasar sekunder (untuk ORI dan SR)
Cara Membeli
SBN ritel bisa dibeli melalui mitra distribusi resmi saat masa penawaran:
- Bank (BCA, Mandiri, BRI, dll.)
- Sekuritas (Mandiri Sekuritas, BCA Sekuritas, dll.)
- Fintech (Bibit, Bareksa, Tanamduit, dll.)
Pantau jadwal penawaran di kemenkeu.go.id atau media keuangan.
Reksa Dana Pasar Uang
Cara Kerja
Manajer investasi mengumpulkan dana dan menginvestasikannya ke instrumen jangka pendek: deposito, SBI (Sertifikat Bank Indonesia), dan obligasi bertenor pendek (< 1 tahun).
Angka-Angka Penting
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Return tipikal | 3-5% per tahun |
| Pajak keuntungan | 0% untuk investor individu |
| Return setelah pajak | 3-5% (sama — bebas pajak!) |
| Minimum | Rp 10.000 |
| Likuiditas | T+1 (1 hari kerja) |
| Risiko | Sangat rendah |
Kelebihan
- Bebas pajak — ini keunggulan terbesar
- Sangat likuid — bisa dicairkan kapan saja, dana masuk T+1
- Minimum sangat rendah — Rp 10.000
- Tidak ada penalti pencairan dini
- NAV relatif stabil — hampir tidak pernah turun
Kekurangan
- Return sedikit lebih rendah dari SBN (tapi setelah pajak bisa kompetitif)
- Tidak dijamin LPS — tapi underlying-nya deposito dan obligasi pemerintah
- Kualitas bervariasi — pilih yang AUM-nya besar dan dari manajer investasi terpercaya
Contoh Produk
| Produk | Manajer Investasi |
|---|---|
| Bahana Dana Likuid | Bahana TCW |
| Sucorinvest Money Market Fund | Sucorinvest |
| Mandiri Investa Pasar Uang | Mandiri Manajemen Investasi |
| BNP Paribas Rupiah Plus | BNP Paribas |
Perbandingan Head-to-Head
| Kriteria | Deposito | SBN Ritel | Reksa Dana Pasar Uang |
|---|---|---|---|
| Return sebelum pajak | 2,5-4% | 5-7% | 3-5% |
| Pajak | 20% | 10% | 0% |
| Return setelah pajak | 2-3,2% | 4,5-6,3% | 3-5% |
| Minimum | Rp 1-10 juta | Rp 1 juta | Rp 10.000 |
| Likuiditas | Rendah | Rendah-sedang | Tinggi |
| Jaminan | LPS Rp 2M | Negara | Tidak ada (tapi sangat aman) |
| Ketersediaan | Kapan saja | Saat penawaran | Kapan saja |
Kapan Menggunakan yang Mana?
Dana darurat → Reksa Dana Pasar Uang
Likuiditas tinggi, bebas pajak, minimum rendah. Pilihan terbaik untuk dana darurat.
Uang untuk 2-3 tahun ke depan → SBN Ritel
Return tertinggi setelah pajak, dijamin negara. Cocok untuk tujuan jangka menengah seperti DP rumah atau biaya nikah.
Uang yang sudah “banyak” → Deposito (sebagian)
Jika Anda punya lebih dari Rp 2 miliar, menyebar di beberapa bank untuk jaminan LPS bisa masuk akal. Tapi untuk jumlah lebih kecil, deposito kalah kompetitif.
Kesalahan Umum
1. Menaruh semua uang di deposito
Banyak orang Indonesia “default” ke deposito karena familiar. Padahal setelah pajak 20%, return-nya sering kalah inflasi.
2. Mengabaikan SBN karena tidak tahu cara beli
SBN ritel sekarang sangat mudah dibeli melalui aplikasi seperti Bibit atau Bareksa. Prosesnya bahkan lebih mudah dari membuka deposito.
3. Tidak mempertimbangkan pajak
Perbedaan pajak 0% vs 10% vs 20% sangat signifikan dalam jangka panjang. Selalu bandingkan return setelah pajak, bukan sebelumnya.
Ringkasan
Untuk investor pasif Indonesia:
- Reksa dana pasar uang untuk dana darurat dan kebutuhan jangka pendek
- SBN ritel untuk tujuan jangka menengah (2-3 tahun)
- Deposito hanya jika ada alasan spesifik (jaminan LPS untuk dana besar)
Ketiganya adalah “bagian membosankan” dari portofolio — tapi bagian membosankan inilah yang membuat Anda bisa tidur nyenyak.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.