BPJS Saja Tidak Cukup untuk Pensiun

Mengapa Jaminan Pensiun BPJS Ketenagakerjaan tidak cukup untuk pensiun nyaman, dan apa yang harus Anda lakukan untuk menutup gap-nya.

BPJS Saja Tidak Cukup untuk Pensiun

Jika Anda seorang pekerja formal di Indonesia, Anda mungkin berpikir: “Saya sudah punya BPJS Ketenagakerjaan, berarti pensiun saya sudah terjamin.” Sayangnya, kenyataannya jauh lebih rumit dari itu.

Mari kita hitung bersama.

Apa yang BPJS Ketenagakerjaan Berikan?

BPJS Ketenagakerjaan memiliki dua program yang relevan untuk pensiun:

1. JHT (Jaminan Hari Tua)

JHT adalah program tabungan wajib yang bisa dicairkan saat:

  • Usia 56 tahun (pensiun)
  • Mengundurkan diri (setelah menganggur 1 bulan)
  • PHK

Iuran JHT: 5,7% dari upah (3,7% dibayar perusahaan, 2% dipotong dari gaji)

JHT bersifat lump sum — Anda menerima seluruh akumulasi iuran + hasil pengembangan sekaligus saat pensiun. Ini bukan “pensiun bulanan” — ini tabungan yang dicairkan sekaligus.

2. JP (Jaminan Pensiun)

JP adalah program yang memberikan penghasilan bulanan setelah pensiun (usia 58 tahun).

Iuran JP: 3% dari upah (2% dibayar perusahaan, 1% dipotong dari gaji)

Tapi ada batas atas upah yang dijadikan dasar iuran. Per 2025, batas upah tertinggi untuk JP adalah sekitar Rp 10,04 juta per bulan.

Artinya, meskipun gaji Anda Rp 30 juta per bulan, iuran JP Anda tetap dihitung berdasarkan Rp 10,04 juta.

Berapa Pensiun Bulanan dari JP?

Formula manfaat JP sangat teknis, tapi secara sederhana:

Manfaat JP = 1% × masa iuran × rata-rata upah tertinggi

Dengan batas upah dan formula ini, manfaat JP maksimal saat ini sekitar Rp 4,4 juta per bulan.

Ya, Anda baca dengan benar. Setelah bekerja puluhan tahun, manfaat pensiun bulanan maksimal dari BPJS adalah sekitar Rp 4,4 juta per bulan.

Apakah Rp 4,4 Juta Cukup?

Mari kita jujur menghitung:

Pos PengeluaranEstimasi/Bulan
Makan (2 orang)Rp 3.000.000
Listrik, air, internetRp 800.000
Kesehatan (obat, check-up)Rp 1.000.000
TransportasiRp 500.000
Kebutuhan rumah tanggaRp 500.000
Rekreasi sederhanaRp 500.000
TotalRp 6.300.000

Dan ini adalah estimasi yang sangat sederhana — belum termasuk cicilan (jika masih ada), biaya tak terduga, bantuan untuk anak, atau inflasi yang akan terus menaikkan biaya hidup.

Bahkan dengan estimasi konservatif ini:

Gap = Rp 6.300.000 - Rp 4.400.000 = Rp 1.900.000 per bulan

Anda kekurangan hampir Rp 2 juta per bulan. Dan ingat:

  • Rp 4,4 juta adalah manfaat maksimal — banyak pekerja akan menerima jauh lebih sedikit
  • Inflasi akan membuat Rp 4,4 juta semakin tidak bernilai
  • Biaya kesehatan cenderung naik seiring bertambahnya usia

Bagaimana dengan JHT?

JHT memang memberikan lump sum yang lumayan. Mari simulasikan:

Asumsi:

  • Gaji Rp 10 juta/bulan (tetap, untuk simplifikasi)
  • Iuran JHT: 5,7% × Rp 10 juta = Rp 570.000/bulan
  • Masa kerja: 30 tahun
  • Return pengembangan JHT: ~6% per tahun

Estimasi saldo JHT saat pensiun: sekitar Rp 570 juta

Kedengarannya lumayan? Mari bagi:

  • Jika dipakai untuk menutup gap Rp 1,9 juta/bulan
  • Rp 570 juta ÷ Rp 1,9 juta = 300 bulan = 25 tahun

Tapi ini tanpa memperhitungkan inflasi. Dengan inflasi 4-5% per tahun, uang ini bisa habis dalam 15-18 tahun — dan harapan hidup orang Indonesia terus meningkat.

Juga perlu diingat: banyak orang mencairkan JHT sebelum pensiun (saat resign atau PHK) dan menghabiskannya untuk kebutuhan konsumtif. Jika ini terjadi, saldo JHT saat pensiun bisa jauh lebih kecil.

Gap yang Sebenarnya

Jika Anda bergaji di atas Rp 10 juta per bulan, gap-nya bahkan lebih besar. Seseorang dengan gaji Rp 20 juta yang terbiasa dengan gaya hidup tertentu akan sangat kesulitan hidup dengan Rp 4,4 juta per bulan.

Aturan praktis: untuk pensiun nyaman, Anda membutuhkan 70-80% dari penghasilan terakhir Anda. BPJS hanya menyediakan sebagian kecil dari itu.

Solusi: Investasi Mandiri

Kabar baiknya: Anda masih punya waktu untuk menutup gap ini. Kuncinya adalah mulai berinvestasi sendiri sekarang.

Opsi 1: Reksa Dana Indeks (Paling Direkomendasikan)

Investasi rutin di reksa dana indeks adalah cara paling efisien:

  • Return rata-rata 10-12% per tahun (jangka panjang)
  • Pajak 0% atas keuntungan
  • Biaya rendah
  • Bisa mulai dari Rp 10.000

Contoh simulasi:

  • Investasi Rp 1.000.000/bulan selama 25 tahun
  • Return 10% per tahun
  • Hasil: sekitar Rp 1,33 miliar

Rp 1,33 miliar, ditarik 4% per tahun (aturan umum penarikan pensiun), memberikan sekitar Rp 4,4 juta per bulan — cukup untuk menutup gap dari BPJS.

Opsi 2: DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan)

DPLK adalah program pensiun tambahan yang dikelola oleh bank atau perusahaan asuransi. Beberapa keunggulan DPLK:

  • Iuran bisa dikurangkan dari penghasilan kena pajak (tax-deductible)
  • Pilihan investasi tersedia (konservatif, moderat, agresif)
  • Disiplin — sulit dicairkan sebelum usia pensiun

Beberapa DPLK populer:

  • DPLK BRI
  • DPLK Mandiri
  • DPLK Manulife
  • DPLK AIA

DPLK bisa menjadi pelengkap yang baik, terutama karena keuntungan pajak pada iurannya.

Opsi 3: Kombinasi

Strategi terbaik biasanya kombinasi:

  1. BPJS (JHT + JP) — sebagai fondasi dasar (wajib)
  2. DPLK — untuk keuntungan pajak tambahan
  3. Reksa dana indeks — untuk fleksibilitas dan efisiensi

Action Items: Apa yang Harus Anda Lakukan Sekarang

1. Cek Saldo BPJS Anda

  • Download aplikasi JMO (Jamsostek Mobile) atau akses sso.bpjsketenagakerjaan.go.id
  • Lihat saldo JHT dan estimasi manfaat JP Anda

2. Hitung Gap Pensiun Anda

  • Estimasi pengeluaran bulanan saat pensiun (70-80% dari pengeluaran sekarang)
  • Kurangi dengan estimasi manfaat JP
  • Selisihnya adalah gap yang harus Anda tutup

3. Tentukan Berapa yang Perlu Diinvestasikan

Rumus kasar: Untuk setiap Rp 1 juta per bulan yang Anda butuhkan saat pensiun:

  • Anda memerlukan dana pensiun sekitar Rp 300 juta (dengan asumsi penarikan 4%/tahun)
  • Jika pensiun 25 tahun lagi, investasi sekitar Rp 230.000/bulan di reksa dana indeks (return 10%)

4. Mulai Investasi Rutin

Buka akun di platform reksa dana, pilih reksa dana indeks, dan atur investasi otomatis bulanan. Jangan tunda.

Semakin Dini, Semakin Mudah

Mulai UsiaInvestasi/Bulan untuk Dana Rp 1M*Total yang Disetorkan
25 tahun (35 tahun)Rp 265.000Rp 111 juta
30 tahun (30 tahun)Rp 440.000Rp 158 juta
35 tahun (25 tahun)Rp 750.000Rp 225 juta
40 tahun (20 tahun)Rp 1.320.000Rp 317 juta
45 tahun (15 tahun)Rp 2.430.000Rp 437 juta

*Asumsi return 10%/tahun, target Rp 1 miliar saat usia 60.

Semakin lama Anda menunda, semakin berat bebannya. Waktu adalah aset terbesar Anda.

Kesimpulan

BPJS Ketenagakerjaan adalah fondasi yang penting, tapi sama sekali tidak cukup untuk pensiun nyaman. Manfaat JP maksimal ~Rp 4,4 juta per bulan — jauh dari cukup untuk hidup layak di kota besar Indonesia.

Solusinya bukan mengeluh tentang BPJS, tapi mengambil tanggung jawab atas pensiun Anda sendiri:

  1. Pahami gap antara kebutuhan dan jaminan BPJS
  2. Mulai investasi mandiri sekarang (reksa dana indeks)
  3. Manfaatkan waktu — compounding bekerja paling baik dalam jangka panjang
  4. Konsisten — investasi rutin setiap bulan

Pensiun nyaman bukan hak — itu hasil perencanaan.


Sumber: BPJS Ketenagakerjaan (bpjsketenagakerjaan.go.id), PP tentang Jaminan Pensiun, OJK (ojk.go.id)

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi. Simulasi menggunakan asumsi yang disederhanakan — hasil aktual akan bervariasi.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum membuat keputusan investasi.